Jumat, 30 September 2011

DEFINISI Internet dan Intranet

Internet atau interconnecction Networking merupakan sistem komunikasi global yang menghubungkan komputer-komputer dan jaringan-jaringan komputer di seluruh dunia. Internet juga disebut dengan sebutan cyberspace atau dunia maya (virtual world). Internet merupakan media informasi tanpa batas. Internet tidak bisa dibatasi ruang dan waktu.
persyaratan yang digunakan untuk memungkinkan komputer terhubung dengan internet adalah:
1. saluran komunikasi, misalnya IDSN, Wave Line, DDial-up, atau satelit.
2. ISP (Internet Service Provider), sebagai provider (penyedia layanan) yang dapat menghubungkan komputer ke internet.
Komputer yang terhubung dengan jaringan internet disebut host, yang dapat berada di berbagai tempat yang terpisah di seluruh dunia.
Intranet atau Internal Network adalah internet yang berada pada lingkup yang lebih kecil, misalnya dalam lingkungan perusahaan, sekolah, atau satu instansi.pada saat terhubung dengan koneksi internet, intranet dapat menggabungkan sebuah komputer ke berbagai instansi. Jaringan ini dikenal dengan istilah ekstranet.

Kamis, 29 September 2011

OLD teenager

“Aku pergi dulu, niisan.”

“Ya, hati-hati!”

Setelah aniki berkata begitu, aku pun berjalan keluar gerbang rumahku yang berwarna putih. Tidak mewah memang. Tapi aku masih bersyukur punya tempat tinggal bersama aniki-ku. Orangtua-ku meninggal delapan tahun yang lalu, saat aku masih berumur 10 tahun. Mereka mengalami depresi karena perusahaan yang mereka kelola selama hampir belasan tahun itu bangkrut tak bersisa. Meminum obat nyamuk untuk bunuh diri merupakan cara yang efektif bagi ibuku, dan tak lama setelah itu ayahku terjun dari gedung tua untuk menyusul istri tercintanya, ibuku. Ironis memang. Tapi aniki berusaha untuk menguatkan-ku. Sampai akhirnya aku bisa hidup dengan tegar bersamanya.

Kakiku terus melangkah menuju sebuah bangunan yang selalu aku kunjungi setiap hari –kecuali di hari Minggu- yaitu sekolah. Tempat menimba ilmu setiap orang. Ya, walaupun kehidupanku bersama aniki sangatlah sederhana, aku tidak akan pernah mau untuk putus sekolah. Karena dengan sekolah aku yakin aku bisa mengubah nasibku.

Normal POV

“Hey!” pemuda berambut raven tersebut menghentikan langkahnya untuk melihat siapakah yang sudah menepuk pundaknya dari belakang.

“Oh, hey. Kau tidak naik motor?” tanya Sasuke –pemuda berambut raven- kepada seorang pemuda lainnya yang memiliki rambut coklat panjang bernama Neji.

“Tidak. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi kau yang setiap hari berjalan kaki. Ternyata, lelah juga. Hah,” jawab Neji sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Sasuke tersenyum mendengar pernyataan sahabatnya sejak SMA itu.

“Mungkin lelah bagi seorang pemula sepertimu, tapi tidak untukku. Bertahun-tahun aku berjalan kaki. Kakiku sudah terbiasa dengan itu,” ucap Sasuke masih dengan senyumannya. Neji yang berjalan di sampingnya balas tersenyum. Kemudian mereka pun berjalan beriringan menuju sekolah mereka.

Dodol Garut

“Hai, Neji! Sasuke!” ucap seorang pemuda berambut kuncir ke atas, Shikamaru. Kedua pemuda yang dipanggil mengangkat salah satu tangannya, membals sapaan Shikamaru yang sedang membaca buku di bangkunya.

“Tumben kalian datang berdua? Biasanya Neji datang bersama Harley-nya,” Neji dan Sasuke menaruh tas-nya di meja masing-masing dan duduk di atas kursi.

“Aku hanya sedang mencoba menjadi seorang Sasuke, Shika.” Shikamaru memutar bola matanya mendengar jawaban yang dilontarkan Neji. “Konyol,” gumamnya. Neji dan Sasuke yang mendengar itu hanya mengedikkan bahunya bersamaan. Lalu mengeluarkan buku dari tas masing-masing untuk sekedar menunggu jam pelajaran pertama dimulai. Dasar orang-orang jenius.

Dodol Garut

“Kau tidak pulang ke rumahmu dulu, Sasuke?” tanya Neji. Jam pelajaran baru selesai 5 menit yang lalu. Sekarang mereka sedang berjalan ke arah gerbang sekolah.

“Tidak. Aku harus segera pergi ke toko. Kalian pulang saja,” jawab Sasuke. Dua pemuda lainnya pun hanya mengangguk mengerti. Sudah paham dengan kegiatan Sasuke yang satu ini. Menjadi pegawai di sebuah toko buku setelah pulang sekolah. Tapi kali ini Sasuke tidak pulang ke rumah dulu untuk mengganti baju seperti biasanya. Buru-buru. Itulah yang ada di pikiran Neji dan Shikamaru.

“Baiklah kalau begitu, aku dan Shika pulang duluan. Jaa!” kata Neji lalu menggaet tangan Shikamaru yang jalannya lambat. Yang ditarik hanya mendengus kesal. Setelah melihat kepergian kedua temannya, Sasuke pun mengambil jalan yang berbeda untuk menuju ke tempat kerja sambilannya.

Selama ini Sasuke bekerja sambilan untuk membiayai sekolahnya sendiri. Itachi –kakaknya- pun sama, dia bekerja di sebuah bar yang ada di Konoha. Kerjanya memang malam, karena pada siang harinya dia harus kuliah. Sasuke akui ini memang melelahkan. Siang harus sekolah ditambah bekerja. Malamnya, dia harus mengerjakan tugas-tugas sekolah yang tidak sedikit dan juga mengurus rumah. Tapi ini semua juga demi kebaikannya. Karena itu, dia sedikit jengkel dengan orang-orang yang hanya bersantai ria menjalani kehidupannya. Bukannya iri, tapi dia merasakan bagaimana susahnya hidup. Sasuke menghela napas, ternyata banyak sekali teman-temannya yang seperti itu.

Sesampainya di toko tempatnya bekerja, Sasuke segera masuk ke ruang ganti baju untuk mengganti seragamnya dengan baju khas pegawai di toko tersebut. Kemeja simple berwarna putih beraksen hitam dan terdapat papan nama di saku atas sebelah kanan. Setelahnya, dia segera masuk ke kasir untuk menggantikan pekerjaan Kabuto, sesama pegawai yang lebih tua darinya. Kabuto memberi tanda pada Sasuke agar dia cepat-cepat berada di meja kasir melihat lumayan banyak pelanggan hari ini. Sasuke mengangguk mengiyakan.

“Kau gantikan aku dulu sementara aku akan memeriksa beberapa barang lagi yang datang hari ini.” ucap Kabuto yang dibalas anggukan lagi oleh Sasuke. Setelah itu Kabuto pun pergi keluar toko untuk memeriksa beberapa barang.

“Selamat siang, bisakah saya melihat buku yang Anda beli?” tanya Sasuke ramah disertai dengan senyumannya kepada seorang pelanggan wanita di depannya.

“Tentu,” jawab pelanggan tersebut. Sasuke pun memulai pekerjaannya menjadi seorang kasir.

Sampai seorang pelanggan –pemuda lebih tepatnya- berdiri di depan meja kasir. “Apa disini tidak menjual CD Game?” tanya pemuda berambut pirang yang memakai T-shirt biru muda dibalut dengan jaket berwarna hitam dan jeans yang hitam juga. Terdapat tiga garis di masing-masing pipinya yang berwarna kecoklatan. Sasuke mengernyit.

“Maaf, tapi ini toku buku. Bukan toko penjualan CD Game. Anda salah masuk toko,” jawab Sasuke ramah. Sedikit heran dengan pemuda di depannya yang sepertinya salah memasuki toko, padahal di depan sudah jelas-jelas tertulis ‘Jiraiya Book Store’.

Pemuda di depannya mengernyit. “Jadi di toko ini hanya menjual buku?” tanya pemuda pirang itu lagi. Sasuke mengangguk.

“Heh, payah,” pemuda itu berkata dengan sinis.

“Maaf?” Sasuke merasa sedikit kesal karena mendengar ucapan pemuda di depannya.

“Aku bilang toko ini payah. Di kotaku dulu saja, toko buku menyediakan berbagai buku, CD, bahkan perangkat Hardware. Tapi ternyata di Konoha ini toko-toko sangat payah,” jawabnya.

“Kalau Anda ingin membeli CD , saya sarankan Anda beli di toko yang ada di beberapa blok dari sini. Kami tidak menyediakan barang lainnya selain buku, atau Anda kembali saja ke kota Anda yang dulu, silahkan Anda pergi.” balas Sasuke sopan, tapi terselip nada kesal di kalimatnya.

“Hoo? Kau mengusirku?”

“Tidak. Saya hanya menyarankan saja,”

“ Ternyata bukan hanya tokonya saja yang payah. Pegawai-nya pun sama-sama payah,” ucap pemuda pirang tersebut lalu melemparkan buku yang ada di meja kasir ke beberapa tumpukan buku yang ada di dekat meja tersebut. Sasuke yang melihat-nya melotot kesal pada tumpukan buku yang sekarang sudah berserakan di lantai.

“Apa yang kau lakukan?” Sasuke membentak pemuda pirang yang menjadi pelaku pelemparan buku. Sedangkan orang yang dibentak hanya melengos pergi dari toko buku tersebut. Melihat itu, Sasuke segera keluar dari meja kasirnya dan menyusul pemuda tadi dengan sebelumnya minta maaf pada pelanggan yang lainnya.

“Hey!” pekik pemuda pirang tersebut saat merasakan cengkraman keras di bahunya. Lalu ia menoleh pada Sasuke yang mencengkram bahunya.

“Kau harus bertanggung jawab!” desis Sasuke. Tangannya masih mencengkram kuat bahu pemuda pirang yang meringis sakit dibuatnya.

“Lepas!”

“Tidak! Kau mau lari dari tanggung jawab? Datang-datang kau sudah mencari masalah! Dan kau juga sama sekali tidak membeli buku! Sekarang kau harus bertanggung jawab membereskan kembali buku-buku yang berserakan itu!” Sasuke makin menguatkan cengkramannya.

“Baik! Sekarang lepaskan aku!” ucap pemuda pirang tersebut. Tapi Sasuke masih menahannya.

“Tidak, kau akan kabur.” pemuda pirang tersebut menghela nafas.

“Tidak, aku tidak akan kabur! Aku bukan pengecut!”

Sasuke menatap mata pemuda yang ada di depannya. Sedikit tidak percaya dengan ucapannya. Tapi akhirnya dia melepaskan cengkramannya juga. Lalu pemuda pirang tersebut merogoh saku celananya dan mengeluarkan dompet hitamnya. Sasuke mengernyit melihat pemuda tersebut mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam dompetnya.

“Hey! Kau tidak akan mengganti tanggung jawabmu dengan uang ‘kan?” tanya Sasuke.

“Sayangnya begitu,” jawab pemuda tersebut. Lalu dia menyodorkan uang yang tidak sedikit tersebut pada Sasuke.

“Ini,” ucap pemuda tersebut.

“Aku tidak ingin uang itu. Tapi aku ingin kau membereskan buku-buku itu!”

“Hey! Kau berkata seperti kau pemiliknya saja! Kau cuma pegawainya! Sekarang kau jangan berlaga tidak mau menerima uang ini! Atau mungkin masih kurang?” lalu dia kembali mengeluarkan uangnya. Hampir seluruh dari isi dompetnya.

“Kau terima uang ini atau aku akan bilang pada atasanmu agar kau dipecat!” Sasuke mendengus.

“Memangnya kau siapa? Lagipula kau yang mencari masalah. Bukan aku. Kau tidak punya hak untuk berkata begitu,” Sasuke menyilangkan lengan di dada. Merasa pembicaraan ini akan sedikit memakan waktu.

“Siapa aku? Heh! Aku tidak mau sombong, tapi sepertinya aku harus menyombongkan diri untuk saat ini.” Sasuke mengangkat sebelah alis-nya.

“Aku adalah Namikaze Naruto, pewaris tunggal Namikaze Corp. Perusahaan yang memiliki berbagai cabang di setiap Negara. Mungkin kau pernah mendengarnya,” jelas pemuda yang diketahui bernama Naruto. Dia ikut menyilangkan lengannya di dada. Tapi sepertinya Sasuke sama sekali tidak terkejut dengan penjelasan Naruto.

“Cepat bereskan!” dan Sasuke pun menarik lengan Naruto cukup kuat masuk ke dalam tokonya. Naruto yang gondok karena pengenalannya –penyombongannya- sama sekali tidak digubris oleh Sasuke pun hanya bisa pasrah ditarik seperti ini.

Dodol Garut

“Sialan kau!” umpat Naruto yang sedang duduk di kursi yang ada di belakang meja kasir Jiraiya Book Store sambil memegang sebuah minuman kaleng isotonic di tangan kanannya. Sasuke yang ada di sebelahnya hanya mendengus.

“Kau hampir jadi seorang pengecut kalau aku tidak menarikmu tadi. Walaupun sebenarnya kau masih ‘pengecut’ karena aku menarikmu.” ucap Sasuke sambil meneguk minuman kalengnya.

“Aku sudah menawarkanmu uang yang bahkan jauh lebih baik dari membereskan buku, kau aneh!” Naruto juga meneguk minumannya dengan kasar. Merasa tidak rela karena akhirnya dia membereskan buku-buku yang –sangat- banyak tadi.

“Aku tidak suka dengan orang yang hanya bisa menggunakan uang untuk menyelesaikan masalah. Itu jelas-jelas ciri seorang pengecut!” Sasuke menoleh ke arah Naruto yang tengah menatapnya tajam.

“Apa?” tanya Sasuke bingung karena ditatap tajam seperti itu.

“Kau masih muda. Kau masih sekolah, ya?” tanya Naruto yang telah merubah tatapan tajamnya menjadi normal. Sasuke ingin sekali bergubrak ria karena pertanyaan Naruto sangatlah keluar dari topic alias tidak nyambung. Tapi untunglah dia bisa menahannya, sehingga hanya raut heran yang muncul.

“Menurutmu?”

“Menurutku sih iya,” jawab Naruto santai.

“Tentu saja. Sama sepertimu ‘kan?” ucap Sasuke lalu meletakkan kaleng minumannya yang sudah habis di atas meja kasir. Naruto terkikik.

“Kenapa?” tanya Sasuke. Sedikit heran juga karena dia melihat Naruto terkikik seperti tadi. Bukannya beberapa menit yang lalu dia masih marah?

“Kau berpikir bahwa aku masih sekolah sama sepertimu? Haha,” jawab Naruto disertai dengan tawa kecil. Sasuke kembali heran.

“Tentu saja. Malah, kau terlihat lebih muda dariku. Kau mungkin 2 atau 3 tahun lebih muda dariku.” kembali, Naruto tertawa.

“Apa aku memiliki wajah yang terlalu baby face?” tanya Naruto.

“Lihat saja di cermin,” jawab Sasuke. Naruto yang mendengar jawaban dari Sasuke pun tersenyum. “Berapa umurmu?”

“Delapan belas, kau?” Sasuke balik bertanya sambil membenarkan cara duduknya yang kurang nyaman.

“Oh, lebih muda 11 tahun dariku,”

BUAG

Sasuke sukses terjatuh dari kursi tanpa sandaran yang dia duduki. Naruto tertawa melihat Sasuke yang sepertinya terkejut dengan jawabannya.

“A-apa? Sebelas tahun lebih muda darimu?” tanya Sasuke masih dengan posisi jatuhnya. Dia sedang terkejut bukan main sehingga tidak sadar kalau dia bicara dalam posisi seperti itu. Naruto mengulurkan tangannya untuk membantu Sasuke berdiri. Dan disambut dengan tangan putih Sasuke.

“Terkejut? Umurku 29 tahun. Dan aku tidak sekolah lagi,” ucap Naruto disertai dengan senyuman menawannya. Sasuke segera sadar dari keterkejutannya. Dan kembali duduk di kursinya.

“Ah. Kukira kau masih sekolah. Yah, mungkin kau awet muda.”

“Mungkin kau seharusnya memanggilku ‘Anda’, bocah.”

“Bocah? Heh. Lucu sekali. Aku bukan seorang bocah! Ya sudahlah. Ini sudah sore, aku mau pulang ke rumah. Kau juga seharusnya pulang.” Sasuke berdiri dan melangkah menuju ke ruang ganti. Tentunya untuk mengganti bajunya dengan baju seragam yang ia pakai sebelumnya. Seluruh pegawai di toko ini sudah pulang sejak kira-kira 20 menit yang lalu. Dan terpaksa Sasuke lah yang harus mengunci pintu toko agar terhindar dari berbagai pencurian.

Naruto yang melihat Sasuke masuk ke ruang ganti, kini menghela nafas.

“Aku sedang tidak ingin pulang ke rumah,”

Dodol Garut

Itachi yang baru pulang dari kerja kelompok bersama teman-teman sesama mahasiswa-nya sekarang sedang berjalan kaki di atas trotoar. Dia harus segera pulang ke rumah dan bersiap-siap untuk pergi ke bartender untuk bekerja. Langit mulai berubah warna menjadi orange, menandakan hari sudah mulai beranjak malam. Tahu hal itu, ia semakin mempercepat langkahnya.

“Hei kau!”

Seketika Itachi menghentikan langkahnya. Merasa dirinya dipanggil, ia menolah ke arah kiri, dimana ada seorang pemuda yang ia yakini seumuran dengannya. Itachi menunjuk dadanya dengan jempol kanannya. Bertanya dengan isyarat tubuh apakah dirinya yang dipanggil.

“Iya, kau! Kesini!” teriak pemuda itu. Itachi pun mau tidak mau padahal tidak mau, berjalan ke arah pemuda tersebut. Sekarang ia bisa melihat bahwa pemuda yang berdiri di sebuah gang tersebut memiliki rambut berwarna orange pucat.

“Ada apa?” tanya Itachi setelah sampai di depan pemuda tersebut.

“Handphone-ku tertinggal, sedangkan aku harus menghubungi sepupuku yang kabur dari rumah lagi. Jadi, aku ingin pinjam handphone-mu.” jawab pemuda tersebut. Itachi menatapnya sebentar.

“Maaf. Tapi aku tidak punya handphone,” memang benar. Itachi tidak punya handphone. Begitu juga dengan Sasuke. Bagi mereka, handphone tidak dibutuhkan selagi mereka masih bisa bertemu satu sama lain. Tidak ada yang ingin mereka hubungi. Saudara pun mereka tidak punya. Jadi untuk apa mereka punya handphone? Lebih baik uangnya mereka gunakan untuk membayar keperluan sekolah mereka.

“Tidak punya? Di jaman sekarang ini kau tidak punya handphone?” tanya pemuda tersebut sambil menaikkan satu alisnya. Itachi menggeleng.

“Ah! Tenanglah! Aku tidak akan mencuri handphone-mu. Aku akan mengganti pulsamu setelah aku menghubungi sepupuku.” pemuda tersebut mengira bahwa Itachi mencurigai dirinya sebagai pencuri handphone.

“Aku benar-benar tidak punya handphone. Maaf, tapi aku harus segera pulang,” Itachi membalikkan badannya hendak pulang.

“Ah, tunggu! Aku mohon! Pinjamkan aku handphone-mu!” ucap pemuda tersebut, wajahnya memohon.’Bisa gawat jika dia pulang. Aku tidak bisa mencari orang lain lagi untuk aku curi. Hh, pokoknya aku harus mendapatkan handphone-nya!’ batin pemuda tersebut. Ternyata dia adalah seorang pencuri yang berpura-pura minta tolong. Dia menggunakan metode hipnotis untuk melancarkan aksinya. Dasar.

“Maaf,” Itachi yang melihat jarak rumahnya yang hanya sedikit lagi, berinisiatif untuk berlari saja.

“Aku mohon, aku takut sepu- Hei! Jangan lari!” ucapan pemuda tersebut terpotong saat Itachi sudah berlari meninggalkannya. ‘Ah, aku harus mengejarnya!’

Pemuda –pencuri- yang sebenarnya mempunyai nama Kyuubi itu terus berlari mengejar Itachi. Sedangkan Itachi yang belum sadar bahwa Kyuubi adalah seorang pencuri, merasa bersalah tidak bisa membantu. ‘Kenapa dia tidak minta tolong orang lain saja, sih?’ tapi dia tetap berlari hingga akhirnya sampai di depan rumahnya.

“Hosh, hosh. Dia masih mengejarku! Hah.. apa boleh buat. Hosh, hosh, hosh..” Itachi pun berdiri menunggu Kyuubi yang sebentar lagi ada di depannya.

“Hah, akhirnya aku bisa menyusulmu juga. Nah, kau mau meminjamkanku?” tanya Kyuubi. Dia pun menjentikkan jarinya di depan wajah Itachi. (Maaf, saya tidak tahu bagaimana cara menghipnotis. ==”)

“Eh?” Kyuubi melongo. Sepertinya metode hipnotis yang sudah ia pelajari berminggu-minggu itu tidak bekerja sama sekali. Dia menjentikkan jarinya berkali-kali. Tapi hasilnya sama saja. ‘Hei, ayolah! Seharusnya dia tertidur!’

“Apa yang kau lakukan? Kau mau menghipnotis-ku, ya? Ah, ternyata kau pencuri!” Itachi yang baru menyadari kalau Kyuubi seorang pencuri, segera memegang pergelangan tangan Kyuubi yang masih menjentikkan jari di depan wajahnya. Dan dia memelintir lengan Kyuubi ke belakang.

“A-aduh! Lepaskan! Siapa yang pencuri, hah?” Kyuubi meringis sakit. ‘Sial! Dia sudah menyadarinya! Bagaimana ini? Aku tidak bisa bertengkar!’ batin Kyuubi. Kyuubi memang tidak bisa bertengkar, karena itu dia memilih metode hipnotis dalam aksi pencuriannya yang pertama kali ini. Kenapa dia bisa jadi seorang pencuri? Karena Kyuubi sudah bosan jadi seorang penjual koran yang hasilnya benar-benar sedikit. Untunglah dia hanya sendiri, tidak punya orang yang harus ia nafkahi.

“Kau harus ku antarkan ke kantor polisi! Ayo!” Itachi pun menarik Kyuubi untuk ke kantor polisi terdekat. Lupa dengan niat untuk segera masuk ke rumahnya.

“Tidaaak!” teriak Kyuubi merana.

Dodol Garut

“Kalau begitu aku pulang, “

“Eh, t-tunggu!” Naruto menahan Sasuke yang hendak pulang.

“Apa?” tanya Sasuke, dia sudah memakai seragam sekolahnya dan juga mengunci pintu toko Jiraiya.

“Boleh aku ke rumahmu?”

“Untuk apa?”

“Aku.. sedang tidak ingin pulang ke rumah,” jawab Naruto lesu.

“Kenapa? Rumahmu pasti jauh lebih nyaman dan besar dibanding rumahku.”

“Nanti di rumahmu aku ceritakan. Sekarang, aku boleh ke rumahmu ‘kan?” pinta Naruto. Sasuke berfikir sejenak.

Dia pun mengangguk.

“Yeay!”

“Hah, apa benar kau ini 29 tahun? Kelakuanmu seperti anak-anak,” sindir Sasuke. Naruto yang dibilang begitu berusaha untuk cuek.

“Dimana rumahmu?” tanya Naruto yang melihat Sasuke sudah berjalan di depannya.

“Di Sharingan Street,” ==”

“Masih jauh dari sini?” tanya Naruto lagi, dan menyamakan langkahnya dengan langkah Sasuke yang lebar.

“Dua km dari sini,” jawab Sasuke. Naruto berhenti berjalan.

“Kita naik taksi.” Sasuke mengernyit.

“Kenapa?”

“Aku tidak mau berjalan jauh. Ayo naik taksi saja, biar aku yang membayar,” Naruto menarik tangan Sasuke. Tapi Sasuke tetap bertahan di tempatnya.

“Tidak, jalan saja.”

“Aku bilang naik taksi!”

“Jalan,”

“Taksi!”

“Jalan,”

“Taksi!”

“Jalan,”

“Ta-Argh!” tiba-tiba Sasuke manarik tangan Naruto dan membawanya berlari bersamanya.

“LARI!” teriak Sasuke.

Dodol Garut

“Teme no Baka!”

“Dobe no Usoratonkachi,”

“Gah! Aku pinjam bajumu!” Naruto yang sedang duduk di kursi meja makan rumah Sasuke segera bangkit dan berjalan dengan gerutuan tidak jelas. Hey, Namikaze Naruto. Seorang pewaris tunggal Namikae Corp harus berlarian sejauh 2 km? Yang benar saja! Dan sekarang bajunya basah oleh keringat sehabis jogging sore tadi. Dia harus segera mengganti bajunya dengan baju Sasuke. Apa boleh buat, dia tidak bawa baju sendiri. Lagipula badan Sasuke dengan badannya hampir sama.

Sasuke terkikik. “Bodoh,”

“Nee, Sasuke. Dimana kamarmu?” tiba-tiba Naruto muncul di balik dinding dapur.

“Heh. Bodoh,”

“Apa kau bilang? Kau ini tidak tahu tata krama, ya? Aku ini lebih tua darimu, Teme!”

“Kau masuk saja ke pintu yang ada di sebelah kananmu. Di samping kamar mandi, kakek tua.” ucap Sasuke. Tidak mengindahkan makian Naruto.

“Sialan kau!”

Dan dibalas dengan ‘Dobe’ oleh Sasuke.

Dodol Garut

Meanwhile~

“H-hei! Tunggu aku!” teriak Kyuubi pada Itachi. Yang diteriaki hanya mendengus dan terus melangkahkan kakinya. Shit. Gara-gara Kyuubi, Itachi jadi menghilangkan banyak waktu. Dia harus segera bekerja. Sedangkan Kyuubi masih terus mengejar Itachi.

“Hey! Tunggu!”

“Apa lagi?” Itachi membalikkan badannya. “Sudah syukur aku tidak menjebloskanmu ke penjara! Sudah pergi sana!”

Yah, Itachi tidak jadi mengantarnya ke kantor polisi. Kenapa? Karena Kyuubi berteriak-teriak di jalan, “Tolong! Aku mau diculik!” dan “Aku mau diperkosaaaa!”

Teriakan Kyuubi yang terakhir itu sukses membuat Itachi membatalkan niatnya.

“Tapi, aku belum makan!” balas Kyuubi. Wajahnya kembali memohon.

“Lalu apa? Kau mau aku memberimu makan?” tanya Itachi kesal. Kyuubi mengangguk dengan wajah innocent. Itachi menghembuskan nafas dengan kasar.

“Ke rumahku!” ucap Itachi. Kyuubi mengangguk dengan antusias.

Dodol Garut

Naruto keluar dari kamar Sasuke. Dia memakai T-shirt warna hitam dengan tulisan ‘I am Emo’ di tengahnya. Dan celana pendek selutut dengan warna senada. Sasuke yang sedang duduk di ruang tengah sambil mengeluarkan buku dari tas-nya, melotot ke arah Naruto.

“Apa?” tanya Naruto polos. Sasuke maju mendekati Naruto.

“Jangan pakai baju itu!” seru Sasuke.

“Kenapa?”

“Pokoknya jangan pakai itu!” Sasuke menarik baju yang dipakai Naruto. Hendak membukanya dari badan Naruto. Tapi Naruto menahannya.

“Lepaskan, bodoh!” Sasuke semakin kencang menarik bajunya dari bawah ke atas. Tapi Naruto masih ngotot menahannya.

“Hey! Aku sudah terlanjur memakainya! Memangnya kenapa kalau aku pakai baju ini, hah?”

“Itu baju kesayanganku!”

“Halah! Aku ‘kan cuma pinjam!”

“Tidak!” mereka berdua semakin heboh memperebutkan baju emo tersebut. Dan tidak jarang juga baju yang Naruto pakai tersingkap dan memperlihatkan badan bagian atasnya. Dan sekarang mereka sedang berguling-guling di lantai.

“Lepas!”

“Tidak!”

“Tadaima!” tiba-tiba pintu rumah terbuka, menampilkan seorang Itachi yang terkejut.

“Otoutou.. kau.. gay?” ucap Itachi dengan muka yang penuh dengan ekspresi.

DUK

“Adaw!”

Omake

Saya illfeel dengan fic saya sendiri. ==



Bagaimana? Kalau tidak bagus saya akan menghapusnya. #nunduk

Jujur, saya tidak rela dengan karakter Kyuubi disini! Masa’ dia jadi pencuri? Gak becus lagi?!

Kyuubi : Woy! Elo yang bikin!

Ah, sudahlah Kyuu. Yang penting kau muncul disini. Saya juga agak aneh bikin Naruto jadi kolot diantara SasuItaKyuu. Habis, otak anti Fisika saya yang menyuruh jari-jari saya untuk nulis begitu. Maaf ya, Naru.

Naruto : Gak apa-apa. *senyum semanis2nya*

Aah, Naru! Baik banget sih kamu! #peluk Naru

Kyuubi : Oi! Sasuke! Kepala loe keluar asap, tuh!

Sasuke : Grrrrrh~

Ahaha! Dia cemburu tuh si Naruto saya peluk!

Ah, sudahlah. Minna-san! Review fic saya, ya? Saya harus jungkir balik biar Oksigen bisa ngalir ke kepala saya trus bisa menghasilkan aliran listrik yang bisa ngidupin bohlam di kepala saya.